Pages

Sunday, July 31, 2011

Puaskan diri dengan Berdialog dengan Tuhan-mu di Bulan Mulia ini

Kita semua pasti mempunyai waktu-waktu khusus untuk berdialog dengan Allah. Kita punya kesempatan setiap saat untuk bertemu Allah. Kita ini butuh bercengkrama dengan Allah. Berdialog dengan Allah dapat menentramkan batin.Malang orang yang tak dapat berdialog dengan-Nya. Semestinya kita tak perlu bersedih dan berduka yang berlebihan menghadapi liku-liku kehidupan. Perubahan pasti terjadi, karena Dialah yang menggariskannya. Allah telah menyediakan waktu-waktu khusus untuk kita bisa berdialog, berdoa, memohon, mengadu, memuji kepada Allah Zat Yang Maha Agung dan Maha Besar. Sehingga tak perlu mengeluh kepada orang terdekat kita. Cukup Allah saja tempat bergantung kita. Hingga dada kita lega menghadapi kesulitan hidup dan langkah kita mantap ringan melangkah menyusuri hidup menggapai rahmat Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Saat banyak orang tenggelam nyenyak dalam tidurnya, dia sucikan diri, dia gelar sajadah, kemudian dia tegakkan shalat berdialog dengan-Nya. Di bacanya ayat-ayat-Nya dengan khusyu’ dan khidmat. Terasa begitu dalam kebahagaan, ketenangan, dan kedamaian menyelinap di dasar hati saat berdialog dengan Allah. Bersimbah air mata ketika merenungi kekhilafan diri. Jikalau seseorang membaca al-qur’an sesungguhnya dia telah berdialog dengan Allah. Demikian pula, ketika hamba khusyu’ dalam shalatnya, sejatinya dia telah berdialog dengan Allah. Karena itu, Allah tak akan menerima shalat orang yang lalai dan akan menerima shalat orang yang khusyu’. Seakan-akan dia berhadapan dengan Allah sedang berdialog dengan-Nya.

Sejatinya ada dialog antara kita dengan Allah saat melakukan shalat. Coba kira renungi bagaimana indahnya dialog dalam bacaan surat al-fatihah! Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman: “Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan apa yang dia minta.” Jika hamba-Ku berkata: “Alhamdulillahi Rabbil Alamiin”, Allah berfirman:“Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Jika ia mengatakan: “Ar Rahmanir Rahiim.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memuja-Ku.” Jika ia mengatakan: “Maliki yaumiddin.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memulyakan-Ku.” Jika ia mengatakan: “Iyya kana’budu wa iyya ka nasta’in.” Allah berfirman: “Inilah bagian-Ku dari hamba-Ku, dan bagi hamba-Kumaka ia akan memperoleh yang ia minta.” Jika is berkata: “Ihdinash shiratal mustaqim, shiratal ladziina a’amta alaihim ghairil maghduubi alaihim wala dhalliin.” Allah berfirman: “Ini bagian untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (Shahih Muslim, Kitabus Shalat).

Kebahagiaan sungguh terasa sekali karena memang benar-benar terjadi dialog antara kita dengan Allah Yang Maha Agung. Tiap ucapan hamba didengar dan dijawab oleh-Nya. Penelusuran terhadap perubahan huruf dan makna kalimat yang kita baca saat shalat menjadi sebab kekhusu’an kita. Insyaallah dengan kekhusyu’an itulah Allah berkenan menerima shalat kita. Dan tidak diterima dari shalat kita, kecuali apa yang kita pahami dari shalat itu. Konsentrasi dan menghadirkan hati saat shalat maupun munajat kepada Allah adalah syarat dikabulkannya permohonan kita. Karena Allah tidak akan menerima orang yang berdoa sedangkan hatinya lalai. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima do’a dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi).

Shalat adalah media yang menghubungkan hamba dengan sang Khaliq. Tubuh ada di bumi, tetapi hati dan pikiran disimpuhkan kehadirat Allah SWT. Zat Yang Maha Mulia, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Shalat ditegakkan antara jasad dan ruh berdialog langsung dengan-Nya. Orang tidak mendirikan shalat semat-mata dalam rangka menjalankan kewajiban, melainkan orang mendirikan shalat karena hajat dan kebutuhannya kepada Allah. Orang butuh berbicara, munajat, mengadu, menyalurkan isi hati, menyampaikan kesulitan yang dia alami semasa hidup di dunia ini kepada Allah SWT.

Lihatlah bagaiman jawaban Hatim A’sham ketika dia ditanya, “Bagaimana anda bisa khusyu’ dalam shalatmu?” Ia mengatakan: “Aku khusyu’ dalam shalat dengancara aku berdiri lalu bertakbir, lalu berfikir seolah-olah ka’bah ada di hadapanku, bahwa jembatan shirat ada di bawahku kakiku, bahwa surga ada ada di sisi kananku, dan neraka ada di sisi kiriku, bahwa malaikat maut ada di belakangku, bahwa Rasulullah SAW memperhatikan shalatku, dan aku mengira itu adalah shalatku yang terakhir. Lalu aku bertakbir dengan pengagungan kepada Allah. Aku membaca ayat al-qur’an dengan penuh penghayatan. Aku rukuk dan sujud dengan penuh ketundukan, dan aku jadikan dalam shalatku takut kepada Allah dan berharap kepada rahmat-Nya. Hingga aku mengucapkan salam. Lalu aku berkata dalam hati, apakah shalatku ini diterima ya Allah?”. (Muhammad Nursani, h.154).

Tunaikan shalat dengan memperhatikan apa yang kamu baca dan tidak meninggikan suara, karena shalat sejatinya berdialog dengan-Nya. Oleh karena itu, ajak diri selalu berdialog dengan Allah dengan khusyu’ pada setiap kali kita beribadah kepada-Nya. Ini adalah kesempatan yang istimewa dapat bersama Allah SWT. Menyadari akan terjadinya dialog antara kita dengan Allah, menambah kemantapan beribadah dan melahirkan ketentraman batin. Jadikan, hidup yang sekali ini untuk mendapatkan jawaban dari keridhaan-Nya. Teruslah berinteraksi dengan Allah baik dalam beribadah atau beramal shaleh dengan sesama.

Ajak diri untuk berdoa…….

Ya Allah Zat Penguasa alam semesta

Engkaulah tujuanku………

Ridha-Mu damabaanku………

Perkenankan hamba mengenal-Mu……..

Dan izinkan hamba mencintai-Mu………

Saturday, June 25, 2011

Terkini; MABIT B14.

Dengan nama Allah sebaik-baik perancang,



Alhamdulillah 'ala kulli hal. Mabit B14 berjaya dilaksanakan dengan jayanya pada 24 dan 25 Jun 2011. Terima kasih kepada semua yang terlibat. Moga dengan usaha kita yang sedikit ini mampu menyentuh hati-hati mereka untuk terus thabat di jalanNya. InsyaALLAH.

Thursday, May 26, 2011

GHIBAH

RABU, 27 APRIL 2011 20:28 USTAZAH MAZNAH DAUD

Adakah anda termasuk dalam kalangan mereka yang gemarkan ghibah?

Ghibah merupakan penyakit yang sangat berbahaya, yang boleh menghancurkan manusia dan menghapuskan segala kebaikan yang dilakukannya.

Apa itu ghibah?

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menerangkan erti ghibah dalam sepotong hadis yang bermaksud: “Engkau menyebut tentang saudaramu apa yang tidak disukainya. Sekiranya apa yang engkau sebut itu ada padanya, maka sesungguhnya engkau benar-benar telah meghibahnya. Dan sekiranya apa yang engkau sebut itu tidak ada pada dirinya maka sesungguhnya engkau telah mereka-reka cerita tentangnya.”

(Riwayat Muslim)

Ghibah adalah haram dan termasuk dalam kategori al-kabaer (dosa-dosa besar). Firman Allah Taala bermaksud:

“...dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain.”

(Al-Hujurat:12)

Ibn Abbas radiallahuanhu menjelaskan maksud ayat ini dengan katanya, “Allah mengharamkanghibah atau memperkatakan sesuatu keburukan seseorang mukmin sebagaimana Dia mengharamkan bangkai.”

Menurut al-Hasan al-Basri rahimahullah, “Terdapat tiga istilah yang berkaitan antara satu sama lain dalam al-Quran, iaitu ghibah, ifk dan buhtan. Ghibah ialah engkau mengatakan sesuatu yang ada pada saudaramu, ifk ialah engkau berkata tentang apa yang disampaikan kepadamu dan buhtanialah engkau mereka-reka apa yang tidak ada padanya.”

Bahaya ghibah:

1. Penyebab kepada azab kubur. Al-Bukhari meriwatkan daripada Ibn Abbas radiallahuanhu bahawa Nabi sallallahu alaihi wasallam melintasi dua buah kubur, lantas baginda bersabda (maksudnya): “Sesungguhnya kedua-dua ahli kubur ini sedang diseksa. Mereka tidak diseksa kerana sesuatu yang besar (pada pandangan manusia). Yang seorang ini diseksa kerana tidak berselindung ketika kencing. Adapun yang seorang lagi selalu berjalan membawa cerita yang tidak baik tentang orang lain.”

2. Jatuh muflis. Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya para sahabat radiallahu anhum: “Tahukah kamu apa makna muflis?” Mereka menjawab: “Muflis pada fahaman kami ialah orang yang tiada dirham dan tiada apa-apa harta yang dimilikinya.” Baginda menerangkan (maksudnya): “Muflis dalam kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat nanti membawa pahala solat, puasa dan zakat. Di samping itu dia pernah mencela orang ini, mengqazaf orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan memukul orang ini. Lalu diberikan kepada setiap orang itu sebahagian daripada hasanahnya sehingga habis semuanya sebelum setiap orang yang disakitinya menerima habuan masing-masing. Maka diambil sebahagian daripada dosa-dosa mereka dan dicampakkan ke atasnya kemudian dia dihumbankan ke dalam neraka.” (Riwayat Muslim)

3. Orang yang ghibah akan menyiksa diri dengan tangannya sendiri sebagaimana diceritakan di dalam kisah Israk dan Mikraj. “Ketika aku di-Mikrajkan, aku melintasi satu kaum yang memiliki kuku tembaga. Mereka mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri. Aku bertanya, “Siapakah mereka ini ya Jibril?” Jibril berkata, “Mereka adalah orang yang memakan daging manusia dan menjatuhkan maruah mereka.” (Riwayat Abu Dawud)

4. Iman tidak masuk ke dalam hati dan dia tidak akan mengecapi kemanisannya. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: “Wahai orang yang beriman dengan lidahnya sedangkan iman tidak masuk di dalam hatinya, janganlah kamu mengumpat kaum Muslimin dan jangan menjejaki dan mendedahkan keaiban mereka. Sesungguhnya sesiapa menjejaki dan mendedahkan keaiban Muslimin, Allah akan menjejaki keaibannya. Dan sesiapa yang Allah jejaki keaibannya, Dia akan membongkarkannya…” (Riwayat Abu Dawud)

Kenapa manusia boleh terjerumus ke dalam perangkap ghibah?

1. Lemah iman dan tidak takut kepada Allah. Seseorang yang lemah imannya, tidak akan mampu mengawal dan menguasai lidahnya.

2. Berkawan dengan orang yang suka mengumpat. Lantaran itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita agar mendampingi orang yang baik-baik. Sabda baginda (maksudnya): “Seseorang itu mengikut cara hidup teman rapatnya. Maka hendaklah seseorang kamu memerhatikan siapa teman rapatnya.” (Riwayat At-Tirmizi)

3. Dengki dan iri hati. Dengki merupakan penyakit hati yang terpendam di dalam diri seseorang. Orang yang dengki tidak senang hati melihat orang lain memperoleh nikmat daripada Allah dan bercita-cita agar nikmat tersebut segera hilang, malah kadang-kadang mendorongnya berusaha dengan langkah-langkah tertentu untuk menghilangkannya.

4. Cintakan dunia dan berlumba-luma untuk meraih keuntungannya. Al-Fuadhil bin Iyadh pernah berkata: “Tiada seorang pun yang cintakan pangkat kecuali dia akan berdengki, berbuat zalim, mencari-cari keaiban manusia dan tidak suka kebaikan orang lain disebut.” Sesetengah orang tidak melihat kecuali dirinya. Dia suka mengangkat dirinya dan menyebut keaiban orang lain.

5. Tidak tahu mengisi masa lapang. Sesetengah manusia berasa seolah-olah dia mempunyai banyak masa lapang dan tidak tahu mengisinya dengan perkara yang berfaedah. Lalu masa itu diisi dengan percakapan kosong sehingga terbawa-bawa kepada mengumpat dan mengorek rahsia orang lain.

Selamatkan diri daripada dosa ini dengan:

1. Takut kepada Allah pada setiap masa dan tempat. Bertakwa kepada Allah membantu kita berhenti daripada mengumpat dan dapat menghapuskan dosa-dosa lalu. Firman Allah bermaksud: “...Sesiapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya dan akan membesarkan pahala balasannya.” (At-Talaq: 5)

2. Sibukkan diri dengan membaiki kelemahan sendiri, jangan asyik memerhati kelemahan orang lain. Bak kata seorang penyair: “Perhatikanlah dirimu dan periksa kelemahannya; biarkanlah kekurangan manusia itu diurus oleh mereka.”

3. Membaca sirah para sahabat dan salaf as-soleh serta mendampingi orang-orang yang baik. Dengan itu kita dapat mencontohi akhlak mereka. Kata seorang penyair: “Tirulah mereka walaupun kamu tidak seperti mereka; sesungguhnya meniru seseorang tokoh akan membawa kejayaan.”

4. Muhasabah diri dan mencelanya ketika ia melakukan kesalahan. Itu merupakan cara yang dianjurkan untuk membaiki kesilapan diri.

5. Sentiasa menyedari kepentingan taubat daripada dosa ghibah dan sentiasa menanam azam untuk tidak melakukannya. Minta maaf daripada orang yang pernah kita umpat dan mohon ampun kepada Allah untuk diri sendiri dan untuk kaum Muslimin seluruhnya.

Moga-moga Allah memelihara lidah kita daripada ghibahdan menyelamatkan kita daripada fitnah dunia dan akhirat.

Sumber: http://malaysiaharmoni.com/

Ustazah Maznah Daud

Ketua Wanita

Pertubuhan IKRAM Malaysia

"UKHUWAH TERAS KEGEMILANGAN"

"IKRAM WADAH PERJUANGAN"

Apabila Datangnya Pertolongan Allah dilihat dari surah An-nasr

Salam semua.

Memohon pertolongan Allah supaya kita semua dalam Iman dan Islam. :)

Insyaallah, hari ni post berkisar tentang tafsiran surah An-nasr. Semoga kita ambil iktibar.

Muqaddimah
An-Nasr bermaksud bantuan ataupun pertolongan. Surah ini juga dinamakan sebagai surah at-taudi' yang bermaksud selamat tinggal(i.e. tawaf wida’ – tawaf selamat tinggal). Ia memberi erti tugas nabi Muhammad saw telah sempurna, juga membayangkan ajal Rasulullah saw. Nabi saw tahu beliau akan wafat (lihat hadis Ibnu Abbas dan juga hadis Saiyiditina Fatimah).


Asbabun Nuzul dan Mulabasat Surah An-Nasr
Ia adalah surah yang terakhir yang turun sebagai satu surah (bukan wahyu yang terakhir ye). Dari segi urutan, ia adalah selepas al-Lahab. Allah akan memberikan kemenangan dan kejayaan selepas ujian dan halangan (Surah al-Lahab menceritakan banyak halangan yang akan dilalui dalam berdakwah)
Secara ijma’, surah ini adalah merupakan surah madaniyah. Tiada khilaf dalam hal ini. Namun begitu terdapat dua pendapat samada ia diturun sebelum atau selepas pembukaan kota Makkah (Fathu Makkah) yang berlaku pada tahun 8 Hijrah.
Bagi pendapat pertama, ulama mentafsirkan surah ini diturunkan untuk mengembirakan Nabi Muhammad saw. Kota Makkah dapat dibuka (Fathu Makkah) dan Islam akan mendapat kemenangan. Dari segi nahu bahasa arab, walaupun kalimah “Ja’a” adalah fi’il madhi(past tense) tapi maksud ayat ini adalah `present/future tense’. Bila ada kalimah إِذَا didepannya. جَآءَ إِذَاbermakna `apabila datang….’, yakni merujuk kepada peristiwa yang akan berlaku.
Untuk pendapat kedua pula, ulama’ tafsir membahaskan perkara-perkara yang perlu dilakukan selepas mendapat kemenangan; iaitu kena bertasbih, bertahmid dan istighfar.


Fikrah Ayat
“Apabila datangnya pertolongan Allah dan kemenangan.”
1. Batas keupayaan manusia adalah terhad. Allah swt memberi kemenangan dan memperkenan doa nabi. Pertolongan dan kemenangan datang dari Allah pada masa yang ditentukan-Nya dan dalam bentuk yang dikehendaki-Nya. Jangan kita berputus asa, kemenangan dan kejayaan akan tiba walaupun sekuat mana musuh Islam.
2. `Fathu Makkah’ berlaku 2 tahun selepas perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian ini, kedua pihak (kafir Quraisy dan Islam) berjanji untuk menghentikan peperangan selama sepuluh (10) tahun. Namun, pihak Quraisy telah mengkhianati perjanjian dengan menolong sekutunya (sila baca sirah), maka ini adalah sebab utama berlakunya `Ghazwah Fathu Makkah’. Pada hakikatnya, kesemua ini adalah perancangan dan pertolongan dari Allah swt.
3. Al-Quran menggunakan perkataan `Fath’ yang bermaksud `buka’. Di-dalam islam tidak ada konsep penjajahan atau penaklukan. Pembukaan Negara-negara Islam dipanggil sebagai `futuhat islamiyah'.
4. Bila sesuatu negeri tidak islam, sebenarnya negeri itu ditutup untuk menerima hidayah. Oleh itu, Islam datang bukanlah untuk menawan negeri tersebut, tapi menyampaikan da’wah dan Islam. Diberi tiga (3) pilihan samada menerima islam atau bayar jizyah atau perang sehingga kuasa yang menghalang hidayah kalah. Kemudian terpulang kepada rakyat itu memilih samada ingin memeluk Islam atau tidak – La iqra ha fi ad-din


“ Dan engkau melihat manusia masuk dalam agama Allah beramai-ramai “
1. Kesukaran orang kafir Quraisy dan orang di semenanjung Arab menerima Islam ada kaitan dengan peristiwa tentera bergajah. Mereka masuk Islam selepas `Fathu Makkah’ … kenapa ?
Bila tentera bergajah menyerang Makkah, Allah datangkan burung memusnahkan tentera bergajah. Cerita pelik ini tersebar di seluruh semenanjung Tanah Arab dan tahun tersebut dinamakan TahunGajah. Peperangan tersebut sebenarnya di antara Habsyah dan Arab kerana kaum Quraisy adalah ketua bagi kabilah-kabilah Arab. Bila burung Ababil menolong tolong kaum Quraishy, maka tertanamlah dalam pemikiran orang Arab bahawa benarnya kaum Quraishy ini.
Tiba-tiba Nabi Muhammad saw datang dan mengatakan bahawa kaum Quraishy ini tak betul, Org arab tak boleh terima ...ada satu hadis yang mafhumnya “… Kami tak kan terima Muhammad sehingga Muhammad berjaya kalahkan Quraisy” ..Hadis Bukhari.
Bila Nabi Muhammad Berjaya membuka Kota Makkah dan Allah tidak menolong orang Quraisy, maka oran Arab baru percaya bahawa Nabi Muhammad saw yang betul dan mereka memeluk Islam.
2. Manusia sukar untuk menerima benda yang `teori’ walaupun perkaitan dengan `ad-din’. Berlaku depan mata baru percaya. Tidak ramai seperti Saiyidina Abu Bakar rah. Mereka yang menerima Islam sebelum dan selepas `Fathu Makkah’ adalah tidak sama nilainya. Firman Allah :
3. Jangan menunggu benda ajaib berlaku untuk kita beriman, jika Allah kata betul, maka betullah. Seperti yang berlaku pada Tsunami di Aceh, kita kagum bilamana masjid tak runtuh... maka kata kita benarlah Islam; tapi apa pulak yang berlaku jika gereja yang tidak runtuh, dan bukannya masjid. Jadilah kita seperti orang Arab jahiliyah yang bersikap ragu-ragu.


“ Maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepadaNya, sesungguhnya Dia amat menerima taubat “
1. Ayat ini menerangkan apa arahan Allah dan cara kita meraikan kemenangan/kejayaan(bertasbih, memuji Allah, meminta ampun dan bertaubat). Ini adalah adab sopan Nabi Muhammad saw di sepanjang hidupnya dan dalam masa mendapat pertolongan dari Allah dan mencapai kemenangan menakluk Makkah, beliau membongkok di atas untanya, kerana bersyukur kepada Allah dan memasuki negeri Makkah, sedangkan negeri itulah yang telah menyakitinya, mengusirnya keluar, memeranginya dan menentang dakwahnya dgn penuh kedegilan. Itulahsunnah nabi dan diikuti sahabat selepasnya bila merai kemenangan.
2. Cara mengagungkan Allah … (a) Menjadikan Allah swt sebagai yang terpenting dalam hidup kita, lebih dari segala-galanya (b) Allah swt paling sempurna, tiada kelemahan dan kita tidak boleh ada sifat ragu-ragu dengan Allah swt.
3. Tujuan istighfar di saat kemenangan dan kehilangan kesabaran
(a) Beristighfar terhadap pelbagai perasaan – bangga, sombong yang berkecamuk dalam hati di saat mabuk kemenangan.

(b) Beristighfar terhadap perasaan tidak sabar, perasaan terkilan, kerana lambatnya Allah menunaikan janji member bantuan dan pertolongan.
(c) Beristighfar kerana tidak cukup bersyukur kepada Allah yang sentiasa melimpahkan ni’mat dan rahmat-Nya yang tidak putus-putus
(d) Beristighfar agar ia tidak berlaku zalim kepada musuhnya. Hakikat sebenar adalah Allah yang memberi kemenangan.
4. Nabi beristighfar 70 x sehari (ada riwayat 100 x)… Bagaimanakah kita ?

Disampaikan oleh UQY.

Assalamualaikum. ^_^

Tuesday, May 10, 2011

Tarbiyyatuna


NAntikan keluaran TarBiyyatuna Edisi terbaru...Lajnah Penerbitan sudah berubah nama kepada Lajnah MEDIA INFORMASI.

Moga memberi sokongan.

Thursday, May 05, 2011

Isu Tudung:Ada tak lagi isu ni?

Salam alaykum..moga-moga kita sihat dan diredhai kehidupan oleh Allah.
Isu tudung..isu ni dah lama, tp agak2 ada lg x isu ni?
Moga2 drpd perdebatan ini menambahkan ilmu feqh kita.
Insya Allah..